" KEAJAIBAN " karya Zixza Liana

watch_later Rabu, 09 November 2016
" KEAJAIBAN " karya Zixza Liana
     Namaku Risa.Aku terlahir dari keluarga terhormat. Aku akan berbagi seputar keluargaku yang menurutku sendiri ini tidak pantas disebut keluarga. Mengapa? karena keluargaku ini hanyalah sekumpulan orang yang hanya mementingkan diri sendiri,termasuk aku.
**
     Ketika aku duduk di bangku SMA,dan aku pertama kali mengenal Ukhuwah,aku mengerti apa arti persaudaraan yang terjalin dari kebersamaan yang baru sekali kutemukan di SMA ini.Aku mengenal ukhuwah dari aku masuk kelompok yang disebut Liqo’. Aku bertemu dengan murrobi yang sangat baik dan juga teman-teman yang begitu sangat berarti. Dari pertemuan-pertemuan liqo yang rutin kujalani ini,aku sadar bahwa keluargaku ini berbeda dari keluarga-keluarga yang lain. Dari kawan-kawanku yang bercerita ria dengan penuh bangganya memiliki keluarga yang harmonislah, akurlah, dan lain-lain.
    Disini,aku bisa apa? Hanya bisa mendengar mereka bercerita seputar keluarganya. Aku berfikir disini,kenapa keluargaku tidak seperti keluarga-keluarga lain yang bisa berbagi cerita ,tertawa,saling mendukung, dan saling menasihati, dan apa yang dilakukan keluarga ,mereka sangatlah bertentangan dengan keluargaku,yang sampai berteguran saja tidak pernah,bahkan duduk berdampingan saja jarang. Ntahlah, sesibuk-sibuknya mereka seperti apa, sampai aku saja hanya memikirkan diriku sendiri,tanpa tahu apa yang kedua orang tuaku lakukan.Yang kutahu hanyalah pertengkaran yang menurutku itu sudah biasa dikeluargaku.Aku merasa disini hanya lah untuk memperlengkap kedua orang tuaku,supaya bisa disebut keluarga.
    Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri,tanpa perlu memikirkanku. Aku bingung,kenapa keluargaku seperti ini. Apa aku yang terlalu biasa tidak menanggapi pertengkaran mereka? Apa aku sudah benar menghiraukan pertengkaran mereka? Hanya saja,aku tahu bahwa kelarga seperti ini,hanya ada di keluargaku.
   Hari demi hari aku perhatikan keluargaku, tapi tak berubah dari biasanya. Aku berusaha mencari perhatian mereka,tapi mereka seperti menghiraukanku,seperti aku ini hanyalah angin yang berhembus dan kemudian hilang.
   Setelah pertemuan liqo’ yang sudah lama kuikuti,aku semakin cemburu dengan teman-temanku. Aku tidak tahan dengan apa yang mereka ceritakan seputar keluarganya. Aku menangis. Aku juga ingin seperti mereka. Aku merasa kenapa hanya aku sendiri disini yang mengalami kejadian seperti ini. Aku sempat kesal dengan Allah. Kenapa aku dilahirkan di keluarga ini? Kenapa bukan dikeluarga mereka yang bahagia.Aku masih penasaran dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaaku ini. Memang,aku terlahir di keluarga mampu, sangatlah mampu, tapi aku tidak butuh itu semua. Aku hanya ingin kasih sayang dari mereka. Aku ingin dijemput oleh ayahku,ibuku,bukan dengan sopir pribadiku.Walaupun sederhana tetapi mereka bahagia,merasa cukup dengan keluarganya.
   Bukan seperti keluargaku yang menurut mereka secara materi adalah segalanya.Aku berusaha menjelaskan bahwa hidupku tak seperti itu,tetapi mereka tidak pernah meluangkan waktu sedikitpun.
    Aku pun menceritakan curahan hatiku ini kepada murrobiku.Dan respon murrobiku ini berbeda sekali dengan prediksiku.Yang menurut prediksiku,keluargaku ini tidak bisa dirubah dari semula,tapi murrobiku berkata “Setiap keluarga itu pasti memiliki cara yang berbeda-beda untuk bahagia,dan pasti keluarga ukhti Risa pasti akan bahasia di waktu yang ditentukan-Nya.Bukan berarti keluarga lain selalu bahagia.Tidak,mereka juga pernah merasakan kesedihan.Jadi ukhti Risa harus yakin kepada Allah bahwa keluarga ukhti Risa itu adalah keluarga paling bahagia sedunia” jelas murrobi ku.
“Tapi aku tidak bisa membohongi takdir seperti itu dengan pura-pura bahagia kan?” Tanyaku.
“Ana tidak memerintahkan ukhti Risa dengan berpura-pura,tetapi yakin,dan bertawakalah kepada Allah,pasti suatu hari nanti keluarga ukhti Risa akan bahagia”jawabnya.
   Aku pun menerapkan semua nasehat yang disampaikan murrobiku dengan cara bertawakal kepada Allah. Tiga bulan sudah aku menerapkan semua itu,tetapi kenapa orang tuaku menjadi asing bagiku,aku merasa canggung.Aku merasa semua ini sia-sia.
   Dan pada suatu hari aku memberanikan diri untuk masuk ke kamar orang tuaku.Tiba-tiba aku ditampar oleh ibuku,dan ayahku memarahiku,sebab aku lancang memasuki kamar mereka.Aku hanya menangis,menahan sakitnya tamparan ini.
“Kenapa kalian melakukan seperti ini kepadaku? Kenapa kalian asing bagiku? Bertahun-tahun aku hidup dengan kalian,tapi apa? Aku tidak begitu mengenal kalian Siapa ayahku,ibuku? Kenapa kalian begitu sibuk dengan kerjaan? Kenapa aku seperti diasingkan? Kenapa? Kenapa kaian melahirkanku jika aku diasingkan sepert ini? Kenapa kalian berbeda dengan orang tua lain diluar sana? Sudah bertahun-tahun aku mencari jawaban dari pertanyaanku ini, tapi hari ini adalah hari yang tepat untuk bertanya kepada kalian langsung.Aku tidak bisa mencari jawaban itu sendiri. Aku butuh kalian,sebab kalianlah yang bisa menjawab pertanyaanku ini” teriakku kepada mereka sambil menyeka air mata yang tak terasa menetes di pipiku.
Mereka menangis mendengar penjelasanku tadi.Kemudian mereka berlari dan memelukku,dan berkata “maaf,maaf,dan maaf”
“Bukan itu jawaban yang aku inginkan” teriakku lagi.
Mereka hanya menunduk dan hanya berkata “Maaf..”

     Disitu aku merasa kesal karena pertanyaanku tidak dijawab, tetapi aku merasa kebahagiaan akan datang setelah aku dipeluk oleh kedua orang tuaku. Di hari setelahnya, orang tuaku menjawab semua pertanyaanku dan meminta maaf kepadaku. Aku berusaha mengerti, menanggapinya dengan sikap positif. Dan hari itu aku merasa keluargaku terlahir kembali, dan benarlah apa yang dikatakan oleh murrobiku,bahwa kebahagiaan akan datang pada suatu waktu dengan cara yang tak terduga,dan aku sadar bahwa inilah cara keluargaku untuk bahagia. Dan aku menjadi tahu bahwa segala permaslaahan keluarga itu akan selesai jika kita yakin dan tawakal menjalaninya.
Aku mengerti bahwa perbedaan keluargaku dengan keluarga lain adalah cara Allah untuk memberikan kebahagiaan yang sangat berarti bagiku. Aku sangat berterima kasih kepada Allah karena telah menyatukan keluargaku ini. Tak lupa aku mengucap terima kasih kepada murrobi ku yang memberikanku nasihat dan semangat untuk menjalani semua ini.
“Semua keluarga itu berbeda dengan keluarga lainnya,iya berbeda,berbeda kebahagiaan”
Inilah ceritaku,Risa.







sentiment_satisfied Emoticon