
Namaku
Risa.Aku terlahir dari keluarga terhormat. Aku akan berbagi seputar keluargaku
yang menurutku sendiri ini tidak pantas disebut keluarga. Mengapa? karena
keluargaku ini hanyalah sekumpulan orang yang hanya mementingkan diri sendiri,termasuk
aku.
**
Ketika aku duduk di bangku SMA,dan aku
pertama kali mengenal Ukhuwah,aku mengerti apa arti persaudaraan yang terjalin
dari kebersamaan yang baru sekali kutemukan di SMA ini.Aku mengenal ukhuwah dari
aku masuk kelompok yang disebut Liqo’. Aku bertemu dengan murrobi yang sangat
baik dan juga teman-teman yang begitu sangat berarti. Dari pertemuan-pertemuan
liqo yang rutin kujalani ini,aku sadar bahwa keluargaku ini berbeda dari
keluarga-keluarga yang lain. Dari kawan-kawanku yang bercerita ria dengan penuh
bangganya memiliki keluarga yang harmonislah, akurlah, dan lain-lain.
Disini,aku bisa apa? Hanya bisa mendengar
mereka bercerita seputar keluarganya. Aku berfikir disini,kenapa keluargaku
tidak seperti keluarga-keluarga lain yang bisa berbagi cerita ,tertawa,saling
mendukung, dan saling menasihati, dan apa yang dilakukan keluarga ,mereka
sangatlah bertentangan dengan keluargaku,yang sampai berteguran saja tidak
pernah,bahkan duduk berdampingan saja jarang. Ntahlah, sesibuk-sibuknya mereka
seperti apa, sampai aku saja hanya memikirkan diriku sendiri,tanpa tahu apa yang
kedua orang tuaku lakukan.Yang kutahu hanyalah pertengkaran yang menurutku itu
sudah biasa dikeluargaku.Aku merasa disini hanya lah untuk memperlengkap kedua orang
tuaku,supaya bisa disebut keluarga.
Mereka hanya memikirkan dirinya
sendiri,tanpa perlu memikirkanku. Aku bingung,kenapa keluargaku seperti ini. Apa
aku yang terlalu biasa tidak menanggapi pertengkaran mereka? Apa aku sudah benar
menghiraukan pertengkaran mereka? Hanya saja,aku tahu bahwa kelarga seperti
ini,hanya ada di keluargaku.
Hari demi hari aku perhatikan
keluargaku, tapi tak berubah dari biasanya. Aku berusaha mencari perhatian
mereka,tapi mereka seperti menghiraukanku,seperti aku ini hanyalah angin yang
berhembus dan kemudian hilang.
Setelah pertemuan liqo’ yang sudah lama
kuikuti,aku semakin cemburu dengan teman-temanku. Aku tidak tahan dengan apa
yang mereka ceritakan seputar keluarganya. Aku menangis. Aku juga ingin seperti
mereka. Aku merasa kenapa hanya aku sendiri disini yang mengalami kejadian
seperti ini. Aku sempat kesal dengan Allah. Kenapa aku dilahirkan di keluarga
ini? Kenapa bukan dikeluarga mereka yang bahagia.Aku masih penasaran dengan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaaku ini. Memang,aku terlahir di keluarga
mampu, sangatlah mampu, tapi aku tidak butuh itu semua. Aku hanya ingin kasih
sayang dari mereka. Aku ingin dijemput oleh ayahku,ibuku,bukan dengan sopir
pribadiku.Walaupun sederhana tetapi mereka bahagia,merasa cukup dengan keluarganya.
Bukan seperti keluargaku yang menurut mereka
secara materi adalah segalanya.Aku berusaha menjelaskan bahwa hidupku tak
seperti itu,tetapi mereka tidak pernah meluangkan waktu sedikitpun.
Aku pun menceritakan curahan hatiku ini
kepada murrobiku.Dan respon murrobiku ini berbeda sekali dengan prediksiku.Yang
menurut prediksiku,keluargaku ini tidak bisa dirubah dari semula,tapi murrobiku
berkata “Setiap keluarga itu pasti memiliki cara yang berbeda-beda untuk
bahagia,dan pasti keluarga ukhti Risa pasti akan bahasia di waktu yang
ditentukan-Nya.Bukan berarti keluarga lain selalu bahagia.Tidak,mereka juga
pernah merasakan kesedihan.Jadi ukhti Risa harus yakin kepada Allah bahwa
keluarga ukhti Risa itu adalah keluarga paling bahagia sedunia” jelas murrobi
ku.
“Tapi aku tidak bisa
membohongi takdir seperti itu dengan pura-pura bahagia kan?” Tanyaku.
“Ana tidak
memerintahkan ukhti Risa dengan berpura-pura,tetapi yakin,dan bertawakalah
kepada Allah,pasti suatu hari nanti keluarga ukhti Risa akan bahagia”jawabnya.
Aku pun menerapkan semua nasehat yang
disampaikan murrobiku dengan cara bertawakal kepada Allah. Tiga bulan sudah aku
menerapkan semua itu,tetapi kenapa orang tuaku menjadi asing bagiku,aku merasa
canggung.Aku merasa semua ini sia-sia.
Dan pada suatu hari aku memberanikan diri
untuk masuk ke kamar orang tuaku.Tiba-tiba aku ditampar oleh ibuku,dan ayahku
memarahiku,sebab aku lancang memasuki kamar mereka.Aku hanya menangis,menahan
sakitnya tamparan ini.
“Kenapa kalian
melakukan seperti ini kepadaku? Kenapa kalian asing bagiku? Bertahun-tahun aku
hidup dengan kalian,tapi apa? Aku tidak begitu mengenal kalian Siapa
ayahku,ibuku? Kenapa kalian begitu sibuk dengan kerjaan? Kenapa aku seperti
diasingkan? Kenapa? Kenapa kaian melahirkanku jika aku diasingkan sepert ini?
Kenapa kalian berbeda dengan orang tua lain diluar sana? Sudah bertahun-tahun
aku mencari jawaban dari pertanyaanku ini, tapi hari ini adalah hari yang tepat
untuk bertanya kepada kalian langsung.Aku tidak bisa mencari jawaban itu sendiri. Aku
butuh kalian,sebab kalianlah yang bisa menjawab pertanyaanku ini” teriakku
kepada mereka sambil menyeka air mata yang tak terasa menetes di pipiku.
Mereka menangis
mendengar penjelasanku tadi.Kemudian mereka berlari dan memelukku,dan berkata
“maaf,maaf,dan maaf”
“Bukan itu jawaban yang
aku inginkan” teriakku lagi.
Mereka hanya menunduk
dan hanya berkata “Maaf..”
Disitu aku merasa kesal karena
pertanyaanku tidak dijawab, tetapi aku merasa kebahagiaan akan datang setelah
aku dipeluk oleh kedua orang tuaku. Di hari setelahnya, orang tuaku menjawab
semua pertanyaanku dan meminta maaf kepadaku. Aku berusaha
mengerti, menanggapinya dengan sikap positif. Dan hari itu aku merasa keluargaku
terlahir kembali, dan benarlah apa yang dikatakan oleh murrobiku,bahwa kebahagiaan
akan datang pada suatu waktu dengan cara yang tak terduga,dan aku sadar bahwa
inilah cara keluargaku untuk bahagia. Dan aku menjadi tahu bahwa segala
permaslaahan keluarga itu akan selesai jika kita yakin dan tawakal
menjalaninya.
Aku
mengerti bahwa perbedaan keluargaku dengan keluarga lain adalah cara Allah
untuk memberikan kebahagiaan yang sangat berarti bagiku. Aku sangat berterima
kasih kepada Allah karena telah menyatukan keluargaku ini. Tak lupa aku
mengucap terima kasih kepada murrobi ku yang memberikanku nasihat dan semangat
untuk menjalani semua ini.
“Semua
keluarga itu berbeda dengan keluarga lainnya,iya berbeda,berbeda kebahagiaan”
Inilah
ceritaku,Risa.